Raumanen
by dyang73
Sore selepas hujan, aku bergegas menyusuri jalan sepanjang pertokoan. Tak kupedulikan cipratan air hujan yang menggenangi sepanjang jalan yang kulintasi dan mengotori ujung celana jins yang kupakai. Aku terburu2. Raumanen telah menungguku sejak lima belas menit yang lalu. Sebuah pohon tumbang menghambat laju jalan bus yang kutumpangi tadi, hingga aku terlambat menemui Raumanen di kedai kopi tempat biasa kami menikmati secangkir kopi.
Setiba di sana, kulihat Raumanen telah duduk di pojok dekat jendela. Pojok yang tak mecolok perhatian, begitu katanya menamai tempat favorit kami itu. Dan dari sana pula kami bisa mengamati beberapa tamu lain sambil menunggu secangkir kopi tersaji. Aku melambai kearahnya. Jemari tangan kanannya berhenti mengetuk2 meja dan langsung membalas lambaian tanganku. Ada segaris senyum di bibirnya. Namun tak bisa menutupi kegelisahan yang terpancar dari wajah cantiknya. Bergegas aku menghampiri dan duduk dihadapannya.
“Manen…” kataku hati2 “Ada apa?”
Raumanen diam. Wajahnya menyiratkan duka.
“Manen…?” bisikku lagi setelah beberapa detik berlalu. Tanganku menyentuh jemarinya.
Raumanen tetap diam. Sikap Raumanen kali ini sungguh buat aku bingung. Sikapnya yang dulu ceria dan selalu berceloteh panjang setiap kami bertemu, sekarang tak bersisa di wajahnya.
Padahal masih jelas dalam ingatanku saat Raumenen bercerita dengan riang tentang perkenalannya dengan seorang pria yang pada akhirnya membuat dirinya terpesona. Seorang insinyur muda tampan keturunan Batak bernama Hamonangan telah membuatnya jatuh hati. Aku juga ingat betapa Raumanen kesal ketika beberapa teman mengomentari kedekatan dirinya dengan Monang.
“Mereka tak pantas berkata seperti itu tentang Monang!” Ujar Raumanen padaku di suatu siang saat mendengar nasehat beberapa teman yang memperingatkannya agar ia hati2 terhadap Monang yang selama ini terkenal sebagai petualang cinta di kampus kami.
“Mereka tau apa tentang aku dan Monang?” lanjutnya lagi “Selama ini mereka selalu menilai tentang keburukan2 Monang. Bahkan sekarang, mereka menilai bahwa aku tak pantas bersanding dengan Monang hanya karena Monang bersuku Batak dan aku Menado”.
Sebenarnya waktu itu aku ingin menyatakan kekhawatiranku juga, namun aku tak sanggup. Aku tak tega melihat kekecewaan yang mungkin hadir jika aku menyerukan pendapatku tentang Monang. Sungguh, aku tak sanggup merusak kebahagiaan Raumanen saat itu.
Setelah jeda cukup lama akhirnya aku memberanikan diri bertanya.
“Tentang Monang?” tanyaku menebak.
Raumanen mengangguk.
“Aku tak ingin Monang menikahiku hanya karena ingin bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya”.
Raumanen mengelus lembut perutnya. Tatapan mataku turun mengikuti arah gerakan tangannya. Sudah masuk bulan ketiga. Sepintas memang tak tampak tapi jika dilihat lebih seksama perutnya sudah agak sedikit membuncit.
Kemesraan Raumenen dan Monang memang telah mencapai titik yang melampaui batas larangan. Suatu malam, menurut cerita Raumanen padaku, sepulang mereka dari suatu acara kampus yang diadakan di Puncak, tiba2 saja mobil yang dikendarai Monang mogok di daerah Cibogo. Karena hari sudah terlampau malam, maka mereka memutuskan bermalam di sebuah bungalow. Terjadilah perbuatan yang paling terlarang oleh agama itu.
“Kalau cuma itu sebabnya hingga Monang mau kawin denganku, kurasa lebih baik dia lupakan saja” [1] lanjut Raumanen menyentak lamunanku.
“Jadi menurutmu, selama ini Monang tak mencintaimu? hanya karena dia tak pernah mengucapkan kata2 cinta dihadapanmu?” tanyaku sambil menatap lekat wajahnya.
“Perkawinan harus dilandasi cinta…”. Raumanen menjawab.
Aku menghela napas. Aku harus menghargai pendapat Raumanen. Aku tahu, Raumanen tak mau Monang menikahinya karena terpaksa.
Monang, begitu Raumenen pernah bertutur padaku, tak pernah sekalipun mengatakan cinta pada Raumanen. Padahal ucapan itu sangat dibutuhkan oleh Raumanen. Hal itulah yang membuat Raumanen merasa ragu akan niatan Monang untuk mengawininya. Tapi aku yakin bahwa Monang sangat mencintai Raumanen. Aku tahu, Monang memilih cara lain dalam mengungkapkan cintanya pada kekasihnya itu.
“Tapi…” kata2ku terhenti. Seorang pelayan datang ke meja kami mengantarkan secangkir kopi lalu meletakkannya dihadapanku. Sepintas kulihat mata pelayan itu melirik ke arah Raumanen sejenak kemudian berlalu dengan tanda tanya yang kutangkap di wajahnya.
“Kalian harus segera menikah, Manen” kataku melanjutkan kalimat yang terputus tadi.
Raumanen menggeleng pelan.
“Ya, seharusnya aku bahagia, karena Monang sudah membuka jalan ke arah pernikahan kami. Tetapi aku tidak bahagia, cuma merasa bersalah karena kejadian di bungalow itu. Lagi pula aku takut. Takut masa depan. Haruskah aku menjadi istri Monang sekarang? Membagi hidupku dengannya, mengarahkan cita-citaku agar serasi dengan cita-citanya? Sedangkan aku tak tahu apakah ia mencintaiku”. [2] jelas Raumanen panjang lebar padaku.
“Tapi Manen, tidakkah kau lihat usahanya?” Aku berusaha meyakinkan Raumanen. “Usaha Monang memperkenalkanmu kepada keluarganya? mempersiapkan sebuah rumah untuk kalian tinggali setelah kalian menikah? tidakkah itu kau terjemahkan sebagai ungkapan cinta?”
Lagi, perbincangan kami terperangkap dalam kebisuan. Kulihat jemari Raumanen memainkan tangkai cangkir kopinya yang berisi tinggal separuh. Kuraih cangkir kopi bagianku. Sudah mulai dingin. Kuminum hingga tinggal separuh dalam tiga kali tegukan.
“Manen, kau harus menerima Monang menikahimu” ujarku memecah keheningan kami.
“Aku tidak bisa….” bisik Raumanen sambil menggeleng.
“Apa lagi yang membuat kalian tidak bisa bersama?” tanyaku. Keningku berkerut sambil menatap lekat wajahnya.
“Orangtua Monang tak menyetujui pernikahan kami…” kalimat Raumanen terputus. Dia tercekat. Matanya mulai berair dan membasahi kedua pipinya.
Aku buru2 merogoh tas mencari tisu lalu memberikan padanya. Raumanen menerima lalu mengeringkan kedua sudut matanya dengan tisu pemberianku.
“Mereka telah menjodohkan Monang dengan sepupunya. Seorang gadis di Sibolga sana. Keputusan keluarga berdasarkan adat Batak agar Monang yang telahir sebagai anak sulung, harus menikah dengan gadis sesuku” lanjut Raumanen.
Aku tercenung mendengar kata2 Raumanen. Aku memang pernah dengar tentang ketentuan adat seperti itu, meski tak paham benar. Tapi aku benar2 tak menyangka jika hal tersebut justru menimpa Raumanen dan Monang.
“Sudahlah, ini sudah jalan nasibku” ujar Raumanen. “Kami memang ditakdirkan tidak berjodoh”.
“Tapi kau tidak bisa mengalah pada nasib seperti itu saja, Manen” sanggahku.
Raumanen menggeleng. Kulihat dia tersenyum.
“Coba bayangkan. Bila kami nanti naik pelaminan, bersama2, bila kelak kami bersujud dihadapan pendeta, semua akan mencibir, akan memandang kami dengan cemooh dan benci, karena mereka sudah tahu bahwa sebelum direstui Tuhan dan manusia, Manen dan Monang sudah mencicipi cawan cinta itu” [3] kata Raumanen. Kulihat matanya menerawang.
“Ah, peduli apa kata mereka!!” suaraku mengeras “Yang penting kalian menikah. Aku ingin melihatmu hidup bahagia bersama Monang”
Raumanen menarik napas panjang. Aku meraih tangan Raumanen dan menggenggamnya. Seketika aku bisa merasakan kegetiran di hati Raumanen.
“Aku senang kau mau datang dan mendengarkan ceritaku, tapi aku harus pergi sekarang” kata Raumanen seraya meraih tas disampingnya dan dikenakan di bahunya.
Sebenarnya aku ingin menahannya beberapa menit lagi. Rasanya aku belum puas meyakinkan Raumanen. Tapi aku juga tak ingin terlihat terlalu mencampurin persoalan antara dirinya dan Monang.
Raumanen bangkit dari duduknya. Lalu aku pun ikut berdiri. Tiba2 Raumanen memeluk tubuhku erat.
“Sekali lagi, terimakasih sudah menjadi temanku” bisiknya tanpa melepaskan pelukannya “Aku yang terbuang selama2nya dari Tuhan dan manusia…” [4] ujarnya lagi lalu melepaskan pelukannya.
“Apa maksudmu, Manen?” tanyaku bingung.
“Aku harus pergi…” sahutnya.
“Baiklah, kita bisa janjian di sini lagi nanti” ujarku.
Raumanen diam.
“ Hati2…” lanjutku lagi menutup pembicaraan.
Kupandangi Raumanen hingga menghilang di balik pintu. Aku kembali duduk dan menghabiskan separuh kopi yang masih bersisa di cangkirku dengan pikiran penuh disibukan dengan pengulangan perbincangan2 kami tadi.
Sebulan yang lalu tak sengaja aku bertemu Monang di kedai kopi tempat biasa aku dan Raumanen bertemu. Monang duduk di mana biasa Raumanen duduk. Dia sedikit terkejut ketika aku menghampiri dan duduk dihadapannya. Kulihat wajahnya memendam rasa sedih yang berusaha ditutupinya. Kamipun saling bertukar kabar. Lalu, setelah lama jeda, akhirnya Monang pun mulai bercerita padaku.
“Tadi malam aku bermimpi tentang Raumanen. Rupanya kuteriakkan namanya, karena ketika aku bangun, gemetar dan basah keringat, nama itu masih bergema dalam kepekatan kamar tidurku. Sesaat aku tak tahu di mana aku berada. Lalu istriku menyalakan lampu. Dipandangnya aku dengan muka cemberut, mata menuduh. Jadi kutahu, benar tadi kuteriakkan nama kekasihku itu. Sungguh tak termaafkan, dan pasti menyayat hati istri yang setia”.
Monang menyesap kopi hitam pekat dihadapannya kemudian meneruskan cerita tentang mimpinya.
“Aku bangkit dari ranjang, keluar dari kamar tidur yang menyesakkan nafas itu. Aku masuk ke kamar kerjaku. Abu rokokku jatuh ke atas foto itu. Barangkali lebih pantas kalau air mata”.
Dia menghela napas panjang lalu melanjutkan.
“Berbahagialah orang, yang sanggup menyalurkan derita hatinya dengan mencurahkan air mata. Kalau aku, derita itu malahan membakar jiwaku. Hingga akhirnya kering, tandus, menjadi abu. Ah, mungkin aku harus pergi menengok Raumanen”.
Mendengar cerita yang dikisahkan Monang membuat aku tak mampu berkata2. Dan aku bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Monang saat ini.
Lalu aku berkata lirih padanya, “Ya. Temuilah Manen, mungkin dia rindu padamu…”.
Beberapa menit kemudian Monangpun pamit setelah sebelumnya diteguk kopinya hingga tak bersisa. Monang bangkit lalu melangkah pergi.
Selang beberapa saat, aku lalu bangkit dan beranjak menempati tempat duduk yang sebelumnya ditempati Monang. Tempat yang biasa Raumanen duduki.
Beberapa minggu setelah pertemuanku dengan Monang, aku mengunjungi Raumanen. Sebenarnya aku ingin mengunjunginya sejak beberapa hari yang lalu. Aku sungguh tak sabar ingin menceritakan tentang pertemuanku di kedai kopi itu dengan Monang padanya. Namun karena kesibukanku maka baru minggu sore ini aku bisa mengunjungi Raumanen.
Matahari sore mulai menyiratkan warna jingga setibaku disana. Dan ketika berjalan menuju tempat Raumanen langkahku terhenti. Dari kejauhan aku melihat sosok lelaki yang tak asing bagiku, Monang. Bayangan sebatang pohon kamboja jatuh meneduhi tubuhnya. Ternyata Monang mengunjungi Raumanen hari ini. Kulihat tangannya menggenggam seikat besar bunga mawar berwarna merah.
Aku urung melanjutkan langkahku. Aku tak ingin mengganggu pertemuan Monang dengan Raumanen. Namun ternyata Monang menyadari kehadiranku. Ketika aku melangkah mundur lalu membalikkan badan, tiba2 kudengar Monang memanggil namaku. Tangannya melambai kearahku saat aku menoleh kearahnya.
Penuh ragu aku melangkah menghampiri Monang.
“Aku bisa datang lagi besok untuk menemui Raumanen kalau kau mau” kataku pada Monang.
“Tidak perlu” kata Monang menggeleng sambil tersenyum “Aku sudah sudah selesai. Lagi pula, minggu besok aku bisa mengunjunginya lagi”.
Monang pun mengambil langkah dan perlahan pergi.
“Kau sering mengunjungi Raumanen?” tanyaku buru2 padanya ketika kakinya baru beberapa langkah dibelakangku.
“Ya” jawab Monang singkat.
Kutangkap nada sedih disuaranya.
“Padahal sudah sepuluh tahun. Sudah sepuluh tahun, hampir seperempat hidupku, aku terpaksa hidup terpisah dari dirinya”. [5]
Tenggorokanku tercekat. Airmataku terbit dan seketika mengaburkan pandangan. Aku mengerjap pelan lalu cairan bening itu meluncur turun melalui pipiku. Lalu kudengar langkah Monang menjauh dibelakangku.
Sedetik kemudian aku bersimpuh tepat di depan Monang meletakkan ikatan mawar merah yang dibawanya. Diantara isak aku berkata lirih pada Raumanen.
“Manen, kau dengar kan? Terbukti sudah bahwa Monang ternyata mencintaimu. Ternyata Monang memendam rindu yang dalam padamu. Dia sangat kehilanganmu…”
Kuusap airmata yang semakin deras mengalir dengan punggung tanganku. Aku teringat pertemuan terakhir aku dan Raumanen di kedai kopi sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya aku mengerti kata2 yang Raumanen ucapkan saat kami akan berpisah meskipun terlambat. “Aku yang terbuang selama2nya dari Tuhan dan manusia…” begitu katanya waktu itu. Ternyata kata2 itu sekaligus sebagai kata perpisahan kami untuk selamanya.
Bathin Raumanen sungguh tertekan dalam menghadapi kenyataan yang dialaminya. Dia lari dari kenyataan hidup. Raumanen mengurung diri di kamar dan mengenang semua kenangan2 manisnya bersama Monang. Tapi tak kusangka ternyata Raumenen memilih jalannya sendiri. Dia menghukum dirinya sediri. Silet itu hening di nadinya. Dan darah seketika mengalir dari pergelangan tangannya. Dalam remang2 cahaya bulan, darah itu tampaknya seperti pita2 merah yang sangat indah, yang tak pernah dapat disambung lagi.
Sinar matahari semakin meredup. Bayangan pohon kamboja semakin tak tampak. Lalu aku bangkit dan perlahan beranjak pergi. Pergi meninggalkan makam Raumanen. Pergi meninggalkan seikat mawar merah yang ditinggalkan Monang sebagai tanda cintanya diatas pusara Raumanen.
Foot Note : • [1] Halaman 48 Novel Raumanen • [2] Halaman 65 Novel Raumanen • [3] Halaman 117 Novel Raumanen • [4] Halaman 92 Novel Raumanen • [5] Halaman 7 Novel Raumanen.
Novel dengan 131 halaman yang pertama kali terbit tahun 1977 ini kali pertama saya baca tahun 1991 ketika mendapat tugas sekolah untuk membuat sinopsis cerita dari novel tersebut. Marianne Katoppo menuliskan novel ini dengan sangat baik, menceritakan tentang seorang gadis yang hidup pada tahun 60an. Saya masih ingat, dulu ketika membacanya membuat saya tenggelam begitu dalam . Sesekali melamun, ikut sedih ketika merasakan kesedihan Raumanen lalu semakin hanyut yang tak urung menerbitkan genangan kecil di sudut mata.
Ah, siapa saya yang berani menuliskan kembali novel berjudul Raumanen ini sesuai versi saya. Lakon ‘aku’ di atas, sengaja saya tambahkan. Sesungguhnya novel itu sendiri hanya bercerita tentang Raumanen dan Monang.
Karya besar yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Femina ini telah dilupakan orang hampir 30 tahun lamanya. Padahal sesungguhnya novel langka ini sangat layak dibaca.



