kisah sebuah apel


Entah sejak kapan aku membenci adikku sendiri. Aku sendiri lupa. Mungkin sejak ia lahir. Atau mungkin juga sejak aku menyadari bahwa adikku itu terciptakan dengan sangat sempurna. Ya, sempurna. Kulitnya putih dan halus bagaikan beludru. Hidung mancungnya terpahat indah di antara kedua matanya yang berwarna kelabu. Bulu yang menaungi matanya, berbaris rapi, hitam dan lentik. Rambutnya lebat dan berombak, menjuntai di antara bahu dan menutupi hingga ke punggungnya. Dan bibirnya… oh, demi Tuhan! Bibirnya tercipta sangat indah dan semerah delima. Dari bibirnya yang indah itu, mengalunlah suara yang indah ketika dia sedang bernyanyi. Luar biasa merdu suaranya.

Continue reading