lima menit dua puluh tahun yang lalu


Malam ini, kau sedang apa, puisiku? Menatap bulan? atau sedang berusaha memetik bintang?

Saat ini kamu sedang ada dimana, sayang? Masih bergulat dengan pekerjaanmu? yang katamu demi seliter beras itu? Atau asyik bercengkrama dengan ketiga buah hatimu? Atau malah, mungkin saat ini kau sedang berkumpul dengan teman2 gerejamu dimana kau aktif sebagai pengurus di dalamnya?

Yah, apapun yang saat ini sedang kamu lakukan, kuharap kamu menikmatinya. Melebur di dalamnya hingga mendatangkan rasa bahagia di hatimu kemudian. Disini, aku hanya bisa membayangkanmu, rindu. Menerka2 apa yang sedang kamu lakukan saat ini. Di sana, di kotamu. Begitulah aku setiap malam, sayang. Yang kemudian mengakhirinya dengan jatuh tertidur, meringkuk mendekap perasaan sedih karena hanya bisa berharap tanpa pernah terjawab.

Continue reading