andai waktu bisa diputar kembali


pagi-pagi begini, di sebuah kedai yang lengang di pojok jalan, kau bisa menyaksikan ada harum seduhan kopi yang pekiknya sampai ke hidung,
di dalam, seorang pelayan merobek lembar pertama almanak bertuliskan selamat tahun baru yang baru saja ia pakukan di dinding
sementara itu, di kursi paling sudut, seorang perempuan tepekur pada cangkir di hadapannya dan mulai mengaduk kopinya pelahan dengan jarum arloji miliknya ke arah kiri–