Saya, puisi yang ditinggalkan pembaca


Teruntuk sesiapa yang membaca surat ini.
Selamat siang.
Siang ini saya menulis dengan perasaan yang entah harus saya sebut apa. Sebenarnya saya ingin langsung bertamu ke hati lelaki itu. Ingin bisa duduk di sampingnya dan memulai percakapan kecil tentang apa saja. Terutama tentang kabarnya yang belakangan ini memilih tuli. Akan tetapi saya cemas jika saya bertamu ke hati lelaki itu, hal ini akan menahannya beberapa saat sementara saya paham sekali lelaki itu terlalu sibuk meski hanya untuk mendengar cerita saya apalagi untuk membaca sepucuk surat.

Frekuensi ‘pertemuan’ kami yang makin jarang, hingga kemudian lelaki itu sama sekali tak lagi punya waktu untuk saya, jujur membuat saya sungguh kehilangan. Entah karena apa lelaki itu lantas memilih sunyi dan merawat setoples diam di bibirnya hingga kini. Ah, barangkali lelaki itu ingin benar benar melupakan rasa sakit hati yang dulu pernah mampir dan melubangi dadanya. Sekaligus ingin menghapus keberadaan saya, si penyebab itu semua.

Pernah di suatu malam, saya mengajukan tanya; “apakah kau sudah mulai melupakanku sekarang?”. Saya ingat betul potongan kalimatnya saat itu; ia sama sekali tak melupakan saya, katanya. Saat itu saya hanya pura pura percaya dengan perkataannya. Tapi coba tebak, apa kalian percaya jika saya kekal di dalam ingatannya?. Jika ini diumpamakan sebuah buku, saya seperti menandai halaman yang hendak saya ulang ulang membacanya dengan melipat ujung kertasnya, sementara pada kenyataannya, lelaki itu sama sekali tak ingin lagi mendengar saya membaca alinea sama yang saya tandai itu.
Dusta jika saya katakan bila saya tlah bisa melupakannya. Setiap pagi ketika saya menyeduh secangkir kopi, kerap kali saya bertanya tanya dalam hati apakah lelaki itu telah sempat menyesap kopi di pagi yang sama ketika saya mengingatnya?. Pukul tujuh malam, ketika saya menatap langit yang mulai gelap, saat itu juga saya bertanya tanya apakah lelaki itu telah tiba di rumah untuk melepas lelah?. Demikian juga ketika malam makin larut, dalam baring saya menerka nerka, apakah lelaki itu punya rasa yang sama seperti saya; merindu?
Sungguh lucu. Kini, tinggal saya sendiri yang tetap mencoba mengeja tanggal tanggal pertemuan dan percakapan percakapan manis sejak bincang pelan pelan pudar. Yah, pada akhirnya saya hanyalah kata. Sajak sajak yang ditinggalkan pembaca. Kini tinggal saya yang mempuisikan kehilangan dengan sempurna. Biarlah. Tak apa. Meski di sini namanya tak pernah sekali pun luput ucap. Meski pun hingga kini, nama lelaki itu dan doa doa sangat akrab dengan bibir saya.
Maka untuk sesiapa yang membaca surat ini, bolehkah saya minta bantuan kalian?
Tolong sampaikan pada lelaki itu, bila kabar saya saat ini baik baik saja.
Tolong bilang pada lelaki itu, jagalah kesehatannya meski kini musim tak lagi seramah dulu. Katakan, jangan sampai ia jatuh sakit.
Bilang pada lelaki itu, jangan pernah lupa untuk bahagia. Tak peduli dengan siapa ia membaginya, selama ia ada di dalamnya.
Sampaikan pada lelaki itu, di sini ada yang lebih hujan dari gerimis awal april; mata yang sembab dan rindu yang hilang alamat.
Tolong ucapkan selamat hari lahir untuk lelaki itu.
Katakan padanya, maaf, saya tak menyiapkan kado istimewa berpita jingga untuknya. Juga tak ada ribuan puisi yang saya lantunkan baginya. Saya hanya punya selaksa rindu sejak ia tak lagi mau bertamu.
Sampaikan padanya, di sini saya dapat mendengar doa doa yang ia lantunkan di tengah derap hujan yang jatuh semalam, yang ia bisikan sepelan gerimis yang turun. Katakan padanya, semalam saya ada, menemaninya mengulangi amsal tentang hari lahir dengan tiga puluh kalimat paling pinta.
Akhir kata, sampaikan juga pada lelaki itu, di sini di atas kepala saya, seekor laba laba membuat sarangnya selama saya menunggunya sampai ia tak lagi menjahitkan diam di bibirnya yang dahulu akrab dengan sapaan.
Terima kasih.