sudah mengingatku berapa kali hari ini?


Selamat siang,
Sudah mengingatku berapa kali hari ini, tuan?
Siang ini, aku sedang duduk di beranda dan membuka ingatan tentangmu. Tentang kita.
Seperti yang kau tau, aku gemar sekali mengingatmu. Jika ada waktu, aku selalu menyempatkan diri untuk mengingatmu walau sedetik saja. Mengingatmu, entah mengapa, selalu saja mendatangkan rasa bahagia tersendiri bagiku.
Dan siang ini, ada ingatan yang hendak aku putar kembali tentang kita di sini. Tak apa ya, aku menuliskannya langsung pada bagian yang aku suka? karena aku begitu senang mengingat bagian ini yaitu pada saat pertemuan kita. Ya, semoga kau tak keberatan.
Continue reading
Advertisements

kau, aku, dalam mimpi


“bisakah kau mendengarnya, tuan? mendengar yang aku teriakan dalam diam? apa kau bisa lihat aku? apakah yang kau lihat tentang aku, serupa dengan apa yang aku pandang tentangmu dari sini? kau terlihat indah dari sini, tuan, walau jarak terentang memisahkan dan tembok tinggi menghalangi pandangan. tapi, sampai kapan aku harus begini, tuan?”

 

“puan, kau boleh bilang aku pengecut karena terus lari darimu, namun sesungguhnya aku bukan lari, aku hanya memilih untuk tetap berdiri disini dan mencintaimu dalam diam. kau tau bagaimana rasanya diam dan menahan segalanya di dada tanpa ada yang membekap? begitulah aku disini, puan. hening tak bersuara, meski ingin kumenjawab saat kau teriakan cinta. sampai kapan? entah”
percakapan kita yang sempat kuingat dalam mimpi indah di tidurku semalam–

Posted with WordPress for BlackBerry.

hujan bercerita


maaf, jika kali ini aku sedang tak membicarakan hati. aku cuma mau ngobrol soal hujan yang kerap akrab dengan suasana hati. sudah pernah kan aku bilang kalau aku suka hujan?
ketika kebanyakan orang menggerutu kala hujan jatuh, tapi tidak dengan aku. malah aku mengharapkan jika durasi hujan yang bergulir bisa lebih panjang. kalau bisa turun sejak pagi, siang hingga malam. menyetia tanpa jeda.

Continue reading

masih ada di benak saya


‘jika aku tak memiliki tanggung jawab pada pekerjaanku, pada keluargaku, sudah pasti saat ini aku sedang duduk di ruang tunggu bandara menunggu pesawat yang membawaku ke kotamu’

tentu kau ingat saya pernah bilang begitu padamu dulu,

dan,

kalimat itu juga yang selalu ada dalam benak saya tiap kali menengadahkan wajah saat memandang pesawat yang melintasi di langit~

mengingatkanku padamu


usai rintik2 yang turun dari awan reda, biasanya pada kaca jendela yang berembun, aku kerap menuliskan namamu dengan menyeret ujung telunjukku perlahan2.

tak cuma itu, aku juga sering kali menuliskan namamu dengan susu kental manis coklat di selembar roti sarapan pagiku.

melingkari bibir cangkir kopiku yang isinya tinggal separuh dengan ujung jari tengahku sambil anganku melayang membayangkanmu.

dan di malam2 sebelum terpejam, diam2 dari bawah bantal, jari manis tangan kananku menggerakan huruf demi huruf dari susunan namamu sambil meneriakkan “aku rindu” dalam hati.

entahlah, sepeninggalmu, aku jadi gemar melakukan hal2 yang sekiranya bisa terus mengingatkanku padamu–

Posted with WordPress for BlackBerry.

karena ternyata saya tak mampu mengelabui rasa…


“Seharusnya, dulu saya tak lupa membawa kompas, saat berani memutuskan mencintaimu, agar saya bisa kembali pulang saat jauh tertinggal di belakangmu~
Seharusnya, saat pertemuan kita dulu, saya tidak mengikutsertakan rasa. Seharusnya, saat itu hati saya tidak ikut bicara. Semestinya saya, kamu, kita berdua, saling menggenggam tangan hanya untuk mencari hangat semata. Hanya untuk sekedar mengusir hawa dingin lewat sentuhan hangat diantara gigilnya udara  malam itu.
Saya pikir, dengan sentuhan tangan seperti itu, tak kan mampu menjelmakan rasa. Tak kan mampu menggugah geliat hati saya. Dan saya menganggap saya mampu bertahan tak tergoda selamanya. Belakangan, saya sadar kalau ternyata saya salah. Saya hanyalah manusia. Perempuan keturunan Hawa. Saya sungguh tak mampu mengelabui hati dan rasa.
Continue reading

berpura-pura


Banyak hal yang bisa membuat aku menangis bila mengingatmu. Saat melintasi jalan2 yang pernah kita lalui bersama, misalnya. Tak hanya itu. Ketika duduk diam si bangku tempat kita pernah menikmati secangkir hot cappuccino juga mampu membuat gerimis turun dari kedua mataku. Atau itu, saat aku membaca ulang sehelai surat yang pernah kau sisipkan dalam sebuah novel yang kau kirimkan padaku. Ah, bahkan aku pun bisa berair mata kala aku sedang diam sendiri dan bayangan dirimu tiba2 melintas dan tersenyum kepadaku.

Continue reading

nomor ponsel


di pulau kecil ini, ponsel saya sama sekali tidak mendapat sinyal, rindu! begitu mendarat kemudian menghidupkan ponsel siang tadi hingga detik ini, sinyal ponsel saya setia mendekap tiga buah huruf. sos. huh! tapi syukurlah, layanan wifi hotel yang bisa saya manfaatkan untuk memposting, meski kecepatan sinyalnya lebih sering bikin saya mengelus dada.

pernah, saya disarankan untuk mengganti provider ponsel saya, tapi saya menolak. mengganti provider, sama saja saya harus berganti nomor ponsel, dan itu saya sama sekali gak mau. kamu tau kenapa, puisiku? sederhana saja alasannya. yaitu karena saya tak ingin jika nomor ponsel saya tidak lagi kamu ketahui.

Continue reading

0

potret


“Aku ingin mengajakmu berfoto berdua” katamu suatu ketika. “Di studio foto” katamu lagi melanjutkan. Aku menatapmu sejenak lantas tersenyum. Senyumku yang seketika merebak itu langsung kamu artikan sebagai ejekan. Kamu keliru, sayang. Bukan, bukan aku hendak mengejek keinginanmu waktu itu. Hanya saja, aku seakan tak percaya pada keinginanmu itu.

Continue reading

demam rindu


lagi lagi rindu,
dia enggan beranjak dari hatiku                                                                                              tetap setia, bahkan berakar disana

entah kapan rinduku akan berakhir
entah kapan rinduku akan hilang
tak ada jawabnya

yang pasti aku ingin bertanya,
kapan rinduku akan kau obati?
semakin hari tak kuasa kubendung rasa ini

betapa derita menyimpan rasa rinduku padamu~

~kuambil arsip surat kita • pada rabu, 30 maret 2010 • 21:53:36