kenangan dalam sepotong kue


“Puan…”

Sebuah suara menyapa tepat dari balik punggungku. Suara yang menandakan jika lelaki yang aku tunggu lebih dari lima menit yang lalu itu telah tiba. Suara panggilannya itu tak ayal membuat aku terbujur kaku di tempat duduk dan tak berani menoleh. Untung saja aku memilih duduk membelakangi pintu masuk restoran ini tadi, kalau tidak, sudah bisa dipastikan aku bakalan salah tingkah tak karuan saat melihat dia melangkahkan kaki sejak dari pelataran parkir sana.

Continue reading

Advertisements

sahabat


Sore berhujan menjelang malam, Dinda, sahabatku menelepon sambil sesekali terisak. Dinda mengabarkan kalau Ramon, suaminya, lagi2 tak pulang semalam.

“Raya, Remon gak pulang semalam”

Mendengar cerita Dinda, aku cuma bisa bertanya, “Ramon gak ngomong apa2, Din, sebelum pergi? emm… maksud gue, gak ngomong dia mau kemana gitu?”

“Enggak, Ray” terdengar suara Dinda membersihkan cairan di hidungnya “tapi gue udah duga, Ray, si Remon pasti saat ini sedang bersama pelacurnya itu, aduuh… males banget gak sih, gue harus mengotori mulut gue dengan nyebut wanita najis itu dengan sebutan pelacur!” jerit Dinda geram. Nampak sekali Dinda merasa nista jika harus menyebut wanita itu dengan pelacur. But she did it, right?

Continue reading

Standard

bungy jumping


Pagi2 sekali perempuan itu tlah bangun, bahkan sebelum ayam jantan ribut berkokok membangunkan orang sekampung. Ia beringsut dan duduk sebentar di tepi ranjang. Ditengok suaminya yang masih mendengkur di sebelahnya. Entah pukul berapa lelaki itu pulang semalam. Yang jelas, bau alkohol masih bisa tercium dari napasnya. Perempuan itu menghela napas sebentar kemudian bangkit dari tempat tidur. Dilipat dengan asal kain batik panjang kusam peninggalan ibunya yang membungkus tubuhnya dalam tidur semalam. Lalu meletakannya di atas bantal. Kemudian ia melangkah keluar kamar. Menuju dapur.

Seceret air yang langsung ia curahkan dari ledeng kemudian diletakkannya di atas kompor untuk dijerang. Sambil menunggu mendidih, ia menuju sumur untuk mandi. Terdengar pintu kamar mandi berderit sebentar tatkala dibuka. Bunyinya seolah ingin meneriakkan betapa tua dan berkaratnya engsel2 papan kayu berkualitas murahan yang berlubang bagian bawahnya akibat lapuk terciprat air sejak puluhan tahun lalu.

Continue reading

titik balik


Semua berawal dari suatu kebetulan. Ketika suatu sore, kau berjalan terburu2 memasuki ruang ganti di sebuah pusat kebugaran. Sedangkan disaat yang bersamaan, aku baru saja selesai mengganti kemeja dan pantalonku dengan kaus dan celana pendek sport. Lalu, karena tergesa dan direpotkan dengan tas kerja yang disandang di bahu dan tas sport adidas bawaanmu, tanpa sengaja kau menabrakku hingga membuat handuk kecil yang kusampirkan di bahu terjatuh dan mendarat di lantai.

Lantas kau buru2 memungut handuk kecil tersebut sambil mengucap maaf. Seketika aku terpana melihatmu. Melihat caramu melipat kaki waktu berjongkok memungut handuk, caramu menengadah memandangku dengan wajah persis anak kucing. Kemudian sinar matamu ketika kita saling bertemu pandang, membuat hatiku detik itu resmi tercuri.

Aku begitu terkesan olehmu. Terlihat sekali jika kau biasa bersikap sopan. Apalagi dari caramu meminta maaf pun begitu santun. Belum lagi saat kau memperlihatkan mimik seolah amat bersalah. Kali ini, aku benar2 jatuh hati.
Continue reading

secangkir kopi di suatu senja


Hingga sore ini langit masih gelap. Hujan deras turun sejak sepagian tadi. Sesekali kilatan cahaya disusul dengan gelegar petir masih kerap terdengar. Dan aku, masih duduk di sini sejak sejam yang lalu. Di ruang makan yang bersambung dengan dapur rumahku. Ruang yang menjadi tempat favorit semenjak aku tinggal seorang diri di rumah ini. Ruang dimana aku bisa duduk berlama2 sambil menikmati secangkir teh. Duduk di belakang meja makan berbentuk bulat menghadap ke arah jendela yang memang sengaja dibuat selebar dinding ruang makan.

Banyak yang bisa aku lihat dari sini, dari tempatku duduk. Contohnya sekarang, aku bisa memandang rimbunan daun pohon bougenville yang kutanam sepanjang pagar depan bergoyang2 karena derasnya hujan yang mengguyur di luar. Atau itu, perdu alamanda yang batangnya merambat naik melalui kaki2 kanopi hingga dedaunannya membuat teduh pekarangan di depan pintu masuk, ia menggugurkan bunga2nya yang berbentuk terompet berwarna kuning akibat terpaan angin yang menyertai hujan hingga bertebaran di atas bebatuan koral yang sengaja kuhamparkan di sepanjang jalan menuju car port.

Continue reading

dewi


“Katakan padaku, apa kau akan menemuinya?” tanya Harmonia yang tiba2 tlah berdiri di sampingku.

Aku tak menjawab pertanyaan Harmonia sabahatku. Aku lebih menyibukan diri dengan memasukan gulungan2 perkamen yang bertuliskan pesan ke dalam tas kulit unicorn yang warnanya semakin coklat kehitaman.

“Jadi, malam ini kau berniat untuk menemui lelaki itu lagi?” tanya Harmonia. Matanya bergantian memandang ke arahku lalu kekeriuhan orang2 di sekeliling kami. Rasa penasarannya sungguh mengalahkan rasa takutnya. Rasa takut jika bisikannya akan didengar.

“Ya” jawabku sekenanya.

Continue reading

menikahlah denganku!


Masih dapat kuingat dengan jelas percakapan masa kecil kita, saat kau dan aku duduk beralaskan rumput di halaman samping sebuah gereja usai kau mengikuti sekolah minggu. Seperti biasa, hari minggu aku selalu sengaja bangun pagi dan menunggumu selesai mengikuti kebaktian minggu. Sepanjang menunggumu, aku selalu membuang bosan dengan mengejar kupu2 yang sayapnya kuning ungu. Mengumpulkan kembang berkelopak biru hingga rok sepanjang mata kakiku penuh di tusuki rumput jarum kelabu.

Continue reading

perawan tua


Awal saya bertemu dengan lelaki itu di lift kantor. Sama sekali tak sengaja. Pagi itu, dia menyelamatkan saya dari pintu lift yang hampir menutup di depan hidung saya sementara kedua tangan saya penuh direpotkan dengan tas dan beberapa arsip bawaan saya. Berkat jasanya, saya terselamatkan dari detik2 terakhir mesin absensi.

Continue reading

perpisahan


Aku dan Nadia duduk bersisian di atas pasir pantai. Kami saling diam. Pandangan kami lurus ke depan menatap senja yang seolah perlahan ditelan laut. Angin sore menyentuh tengkukku. Mengibarkan rambut Nadia yang sepanjang bahu. Aroma wangi yang terbawa angin seketika menguar dari rambut dan tubuhnya. Tercium lembut di hidungku.

Continue reading