Saya, puisi yang ditinggalkan pembaca


Teruntuk sesiapa yang membaca surat ini.
Selamat siang.
Siang ini saya menulis dengan perasaan yang entah harus saya sebut apa. Sebenarnya saya ingin langsung bertamu ke hati lelaki itu. Ingin bisa duduk di sampingnya dan memulai percakapan kecil tentang apa saja. Terutama tentang kabarnya yang belakangan ini memilih tuli. Akan tetapi saya cemas jika saya bertamu ke hati lelaki itu, hal ini akan menahannya beberapa saat sementara saya paham sekali lelaki itu terlalu sibuk meski hanya untuk mendengar cerita saya apalagi untuk membaca sepucuk surat.

Continue reading

tuhan, tolong! ada apa dengan hatiku?


duhai Tuhan sang maha cinta, yang menghembuskan kasih pada hati setiap manusia di dunia, tolong pegangi hati hamba.
Tuhan, saya hendak mengadu tentang hati padaMu. hati yang senantiasa menangis dan menangis tiap malam dikala orang2 telah lelap tertidur. hati yang bilamana merasakan rindu, maka bayangan wajahnya mampu membuat saya menitikan airmata. selalu membuat saya sedih tiap kali mengingat namanya.
Continue reading

sepucuk surat [dari] rindu


Kepada lelaki hujan,
Bagaimana kabarmu dan kabar hatimu? baik2lah, semoga.
Kabarku sendiri baik, meksipun dua hari kemarin sebelah kepalaku didera migrain. Kau tau kan, rasanya seperti seseorang telah meletakan bandul timbangan seberat 2 kilo di sebelah kepalaku. Sementara kabar rinduku, tetap utuh, tak pernah berkurang dan tak pernah sampai. Tentang rinduku, maaf, aku sengaja menambahkan walaupun kau tak menanyakannya. Semoga kau tak marah.
Bagaimana cuaca di kotamu? Di sini, hujan baru saja turun sekalipun matahari belum lagi merangkak naik dan cahayanya belum menyilaukan mata. Barangkali sama dengan kotamu, di kotaku hujan masih sering turun walapun tidak selebat hujan yang jatuh di mataku kala rindu akanmu menjerit2 diingatanku. Nampaknya, serupa gelagat cuaca yang berubah2 dan sulit ditebak akhir2 ini, demikian juga rinduku.
Continue reading

sebuah lagu dan kenangan tentangmu


From             : dyang_73@yahoo.com

To                   : S*****_S********@yahoo.com.sg

Subject         : sebuah lagu dan kenangan tentangmu

Attachment : 1 attachment [sebuah lagu dan kenangan tentangmu]

Dear S,

Kau pasti bertanya2 dalam hati mengapa tiba2 aku mengirimkan surat ini. Begitu kan? Dan aku bisa membayangkan bagaimana keningmu berkerut dan alis tebalmu bertaut ketika membacanya. Tapi jangan! jangan kau buru2 menutup surat ini kemudian mendeletenya. Kau pasti bisa membayangkan bagaimana aku selama berhari2 merancang setiap kalimatnya. Kau pasti bisa membayangkan bagaimana  jemariku bergetar ketika mengetikan huruf demi huruf pada papan qwerty ini untuk memilih tiap kata yang tepat agar kau bisa sedikit tersenyum ketika membacanya. Aku yakin kau juga pasti bisa membayangkan bagaimana aku tidak bisa tidur tenang selama surat ini belum selesai kutulis kemudian terkirim ke kotak emailmu. Maka aku ingin kau membacanya hingga selesai. Bisa kan, S?

Pagi ini S, sambil menuliskan surat yang kini sedang kau baca, aku sengaja memutar sejumlah lagu untuk menemaniku. Oia, aku juga melampirkannya di surat ini untukmu. Jika kau berkenan, kau bisa menyimpannya dan memutarnya untuk kau nikmati di sembarang waktu. Bila kutuliskan judul2 lagu itu disini, kau pasti tak asing dengan judul lagu tersebut. Karena Lagu2 ini dahulu pernah mewarnai hari2 kita. Kumpulan lagu ini berisi lagu2 yang pernah kau berikan padaku dan sebaliknya.

Read more >>

kau tak pernah tau…


Mungkin kau tak pernah tau bagaimana saya di sini selalu menghadirkan bayangmu dalam angan saya tiap waktu, agar rasa saya tetap mencinta dan merindu seperti dulu.

Kau tak pernah tau, bagaimana saya mengurai satu per satu kenangan kita dalam tiap tulisan saya semata agar kau tetap tumbuh dalam benak saya. Agar namamu selalu berdetak dalam sudut hati saya. Begitulah alasan saya menuliskan tiap kalimat dan kata yang saya rangkai di sini untukmu setiap hari.

Continue reading

Rindu


Cintaku, selamat siang.

Bagaimana kabarmu di sana? Aku tau, pasti kau terkejut dengan kedatangan suratku yang tiba2 ini. Dugaanku, pasti tanganmu bergetar sepanjang membuka hingga ketika membacanya. Tak perlu malu mengakuinya, Sayang. Asal kau tau, jemariku pun dalam keadaan gemetar saat menggoreskan tiap aksara menjadi kata. Bahkan hingga aku selesai menulis kemudian melipatnya. Debar jantungku perlahan mereda seiring merpati yang kuutus mengantar surat ini padamu mengepakkan sayapnya menjauh dariku. Ah, semoga surat ini tiba tepat waktu padamu ya, Sayang.

Continue reading