Saya, puisi yang ditinggalkan pembaca


Teruntuk sesiapa yang membaca surat ini.
Selamat siang.
Siang ini saya menulis dengan perasaan yang entah harus saya sebut apa. Sebenarnya saya ingin langsung bertamu ke hati lelaki itu. Ingin bisa duduk di sampingnya dan memulai percakapan kecil tentang apa saja. Terutama tentang kabarnya yang belakangan ini memilih tuli. Akan tetapi saya cemas jika saya bertamu ke hati lelaki itu, hal ini akan menahannya beberapa saat sementara saya paham sekali lelaki itu terlalu sibuk meski hanya untuk mendengar cerita saya apalagi untuk membaca sepucuk surat.

Continue reading